25 Miliar untuk Sebuah Nama Gedung di ITB
Berita tentang penggantian nama gedung 4 Labtek di ITB mungkin sudah banyak di media, salah satunya dari situs resmi ITB, bisa dibaca di sini. Namun saya baru tau kemaren, dikasih tau seorang teman waktu keliling di acara Dies Emas ITB (makasih banyak untuk yang sudah nemenin saya keliling di tengah teriknya matahari, hehehe). Dan berikut adalah gambar dari keempat gedung tersebut:

Gedung Benny Subianto, Gedung T.P.Rahmat, Gedung Yusuf Panigoro, dan Gedung Achmad Bakrie
Untuk mencantumkan nama di keempat gedung tersebut, diperlukan 25 Milyar rupiah..!! Saya tidak habis pikir, mengapa bisa orang yang membayar 25 M tersebut bisa mematrikan namanya sebagai nama gedung di ITB (bukan yang membayar sih, tapi orang tua dari yang membayar yang namanya dipatri di situ). Apakah ini pertanda semakin komersilnya ITB? Mengapa tidak memberi nama gedung dengan nama-nama orang yang berjasa bagi ITB atau nama Pahlawan Nasional? “Gedung Soekarno” , “Gedung Mohammad Hatta”, atau yang seperti itu. Beliau ini jelas seorang Pahlawan Nasional yang besar jasanya. Bukannya saya tidak menghargai para donatur yang memberikan uang sebesar 25 M tersebut, memang benar dengan dana yang sebesar itu ITB dapat memperoleh tambahan biaya untuk riset, pendidikan, dan sebagainya yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas ITB. Tapi “apakah layak dengan 25 M tersebut nama seseorang dipatri di gedung ITB?”. Kalau dimisalkan 1 gedung itu adalah 1/20 bagian ITB, jika ada yang menyumbang 25 x 20 = 500 Milyar, apakah nanti nama ITB ganti jadi nama yang nyumbang? Atau jika ada yang nyumbang lebih kecil, misal 10 Miliar, nama sebuah Laboratorium di ITB bisa ganti nama jadi nama yang nyumbang? (kalau saya nyumbang ke Lab.Telematika ntar namanya ganti jadi nama Lab.Dian Fatra Anggita, hahaha, maaf Pak, Bu, ini admin Lab ngaco ngomongnya…
)
Dan yang ingin saya soroti lagi adalah dari keluarga Bakrie, mengapa 25 M tersebut tidak digunakan untuk menolong korban lumpur Lapindo, kasihan tuh nasib mereka semakin gak jelas, miris saya melihat nasib korban Lapindo (saya hanya bisa ngomong dan berdoa sih, belum bisa memberikan bantuan apa-apa kepada mereka juga). Di mana hati nurani para petinngi Lapindo ini…??
Hhhhh, karena belum bisa berbuat kongkrit untuk masalah ini, curhat aja deh di Blog ini…
