A Story About…

Just an Ordinary Person

Melancong ke Singapore

Tanggal 9 Mei yang lalu saya berkesempatan untuk melancong ke Singapore. Karena saat ini domisili saya ada di Batam, jadi sangat sayang kalo tidak pergi ke Singapore, lha tinggal nyebrang doang, hehe. Saya berangkat bersama teman saya yang kerja di Batam juga, dia teman saya waktu kuliah di ITB. Kami berangkat dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Batam Center jam 6.10 pagi. Di dalam kapal ternyata ada teman dari teman saya itu 4 orang yang akan ke Singapore juga, jadilah kami berenam saat itu. Sekitar jam 7.30 kami sampai di pelabuhan Harbour Front, Singapore. Di pelabuhan itu bertemu lagi dengan 1 orang teman, jadi sekarang ada 7 orang di dalam rombongan.

Setelah ngobrol sebentar di pelabuhan, diputuskan tujuan pertama kami adalah Merlion. Dari pelabuhan Harbour Front kami menggunakan public transport yang disebut MRT (Mass Rapid Transport). MRT ini seperti kereta bawah tanah dalam kota, mempunyai jalur atau koridor seperti busway. MRT ini kendaraan yang cukup bisa diandalkan, jadwalnya tepat waktu (ada estimasi dari satu lokasi ke lokasi lain berapa menit dan berapa menit kereta akan datang ke stasiun), cepat, dan jalurnya banyak, jadi tidak perlu takut jika tidak punya kendaraan pribadi. Untuk naik MRT, kita bisa membeli sebuah kartu yang namanya “ez link card” yang dapat digunakan untuk naik MRT berulang kali selama saldo dari kartu tersebut masih ada, saldonya juga dapat diisi ulang kalau habis, masa expired kartu tersebut jika tidak pernah diisi ulang adalah 5 tahun (lama juga ya?). Namun karena saat itu masih pagi, jadi loket yang menjual ez link card tersebut belum buka, loket tersebut baru buka pukul 10 waktu Singapore atau pukul 9 WIB (WIB dan Singapore selisih 1 jam).

di dalam stasiun

Walau tidak bisa membeli ez link card, kami tetap dapat menggunakan MRT dengan membeli tiket sekali jalan. Tiket ini dibeli di mesin seperti mesin ATM, kita pilih tujuannya, dan masukkan uang ke dalam mesin tersebut, jika lebih maka mesin tersebut akan memberi kembalian juga. Harga tiket tersebut adalah 2.4 SGD (sekitar 15 ribu rupiah). Tujuan kami adalah stasiun Raffless Place, dan akan kami lanjutkan dengan jalan kaki ke lokasi Merlion. Dari Harbour Front naik MRT jalur “North East Line”, turun di stasiun Outram Park dan dilanjutkan dengan naik jalur “East West Line” menuju Raffles Place. Di stasiun Raffles Place kami menukarkan kembali kartu yang dibeli dengan harga 2.4 SGD tadi ke mesin dan kami mendapatkan 1 SGD, jadi sebenarnya biaya yang digunakan itu adalah 1.4 SGD, namun 1 SGD itu seperti jaminan jika kita tidak mengembalikan kartunya, hehehe. Dari stasiun kami berjalan kaki menuju tempat di mana patung singa berada, sambil berjalan kaki kami menyempatkan untuk berfoto-foto, (dokumentasi dalam berwisata itu penting :p) berikut gambarnya.

ni patung burung apa ya? gede banget, hehe

terowongan di bawah jalan raya

Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di tempat patung singa yang menjadi icon dari Singapore tersebut. Di sini kami bertemu seorang teman yang memang sudah tinggal di Singapore sejak kuliah, dia dulu kuliah di NTU. Banyak sekali pengunjung di hari itu karena memang hari libur. Tidak hanya dari Indonesia dan Singapore sendiri, ada wisatawan dari Filipina, Vietnam, India, Eropa, dan lainnya. Kata teman saya saat itu dia melihat Syahrini (pasangan duet Anang Hermansyah) di tempat itu, tapi saya tidak yakin itu Syahrini beneran, hehehe. Tak lupa lagi kami pun mengambil gambar dengan kamera.

Merlion, patung yang menjadi icon Singapore

Ada juga yang jual es krim pinggir jalan seperti ini, hehe

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Chinatown dengan menggunakan MRT lagi, di Chinatown kami bertemu dengan 3 orang teman lagi, sehingga rombongan saat itu menjadi 11 orang, pas nih untuk main sepak bola, hehehe. Di situ ada banyak toko yang menjual pakaian, aksesoris, dan sebagainya. Waktu itu turun hujan, sehingga cukup susah mau berkeliling, kami hanya berkeliling sebentar, kemudian mencari tempat untuk makan siang.

Chinatown

Chinatown

kedai tempat kami makan, ada nasi goreng ikan iblis, eh ikan bilis :p

Kami makan siang di sebuah kedai yang pemiliknya adalah orang Muslim India (dijamin halal kalo yang jual muslim, hehe). Kami makan nasi goreng seharga 4SGD (sekitar 26 ribu rupiah), namun rasa nasi gorengnya menurut saya kurang enak, hambar, tapi karena cari yang murah ya udah deh, makan aja, hehe. Dari Batam sebenarnya saya membawa air minum dan roti untuk sarapan, jadi di sini cuma beli makan sekali, dan jika haus tidak harus beli minuman di Singapore, karena harganya lumayan mahal jika dirupiahkan. Selesai makan kami sholat Dhuhur di sebuah Masjid yang tidak jauh dari kedai tersebut, banyak orang Muslim India yang melaksanakan sholat berjamaah di Masjid tersebut.

Masjid tempat kami sholat

Setelah Sholat kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan Sim Lim Square, tempat menjual barang-barang Elektronik. Kami menggunakan MRT dan turun di stasiun Little India, kemudian jalan kaki. Ketika berjalan kaki ini saya menemukan hal yang menarik, ketika kita mau menyeberang di jalan raya, kita harus menekan tombol yang ada di lampu lalu lintas, kemudian beberapa saat kemudian lampu tersebut akan menjadi merah yang artinya kendaraan harus berhenti, dan pejalan kaki bisa menyeberang jalan. Di sepanjang jalan juga ada beberapa halte bus, semua penumpang harus naik dari halte bus, tidak boleh naik di sembarang tempat, kalau tidak di halte bus dijamin tidak akan bisa naik bus. Benar-benar kota yang rapi dan penuh disiplin, semoga Indonesia bisa jadi seperti ini kedepannya :). Di Sim Lim Square kami hanya berjalan jalan dan sempat bertanya beberapa harga barang elektronik di sana, harganya ada yang lebih murah dan ada yang lebih mahal daripada di Indonesia, namun katanya jika kita membeli barang di Singapore untuk dibawa ke Indonesia, kita dikenakan pajak sebesar 5% dari harga barang, jika kita keluar melalui bandara Changi pajak tersebut akan dikembalikan lagi, namun jika melalui pelabuhan, pajak tersebut tidak dikembalikan, tapi saya juga belum tahu pasti akan hal ini.

Dari Sim Lim Square kami berjalan kaki lagi menuju daerah Bugis, di sini juga banyak pertokoan. Ada hal unik lagi yang saya temui di sini, ada 2 orang seniman jalanan yang sedang beraksi, 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, saat itu yang laki-laki sedang memainkan alat music seperti gendang, laki-laki tersebut beraksi dengan telanjang dada. Berikut ini adalah fotonya.

Seniman jalanan

Dari Bugis, kami naik MRT menuju Orchard, di sini adalah tempat dimana Lucky Plaza berada, tempat dimana Gayus ditemui oleh satgas mafia hukum Indonesia. Di sini kami hanya jalan-jalan dan foto-foto saja. Sepertinya saat itu energi sudah banyak yang keluar, capek banget. Setelah puas jalan-jalan dan berfoto di Orchard, kami memutuskan untuk pulang. Akhirnya kami naik MRT lagi menuju Harbour Front. Sampai di Harbour Front kami langsung booking ferry, dan saat itu sudah malam. Sampai di Batam rasanya pengen cepat-cepat tidur, capek tapi senang, hehe.

Oh iya, untuk biaya penyeberangan dari Batam-Singapore PP adalah 27 SGD (sudah termasuk pajak dari Batam ke Singapore), namun ketika pulang ada pajak lagi dari Singapore sebesar 20 SGD, jadi total untuk penyeberangan adalah 47 SGD. Untuk membeli ez link card harganya adalah 15 SGD dengan nilai saldo 10 SGD yang dapat diisi ulang. Di setiap stasiun, untuk keluar dan masuk kita dapat menggunakan kartu ini, dan terlihat berapa saldo yang tersisa. Jadi estimasi biaya untuk transportasi ke Singapore sebesar 62 SGD (sekitar 409 ribu rupiah). Namun itu belum termasuk makan dan beli barang-barang untuk oleh-oleh (kalau mau beli). Biaya tersebut bisa lebih murah lagi jika kita hanya membeli tiket MRT sekali jalan, namun karena nantinya jika kita berencana untuk kembali berkunjung ke negeri ini, lebih baik menggunakan ez link card, karena masa expired-nya cukup lama, 5 tahun.

Ada 3 suku yang menjadi mayoritas di Singapore, yaitu Cina, India, dan Melayu. Jika kita tidak fasih berbahasa Inggris, jangan takut, pakai bahasa Indonesia kemungkinan orang Singapore juga mengerti, karena sebagian dari mereka menggunakan bahasa Melayu. Di sana kedisiplinan benar-benar ditegakkan, jika kita tidak disiplin bisa jadi kena denda, misalnya kita membuang sampah sembarangan bisa didenda 1000 SGD (sekitar 6,6 juta rupiah), begitu juga jika kita merokok di sembarang tempat, dendanya sangat besar. Semoga Indonesia bisa seperti ini, hehe.

Yup, sekian cerita saya dari jalan-jalan ke negeri seberang. Semoga hal-hal yang baik di sana (seperti tentang kebersihan, kedisiplinan, fasilitas transportasi, dsb) dapat ditiru oleh Indonesia. :)

About these ads

May 17, 2010 - Posted by | Jalan-jalan | , , , , , ,

14 Comments »

  1. wew kk.. panjang amat ceritanya. belum sempet kubaca. tapi pengen komen dulu..hehehe

    Comment by novakhamsah | May 18, 2010 | Reply

    • jiah, keliatan kalo junker, sukanya komen dulu, hahaha…

      Comment by Angga | May 18, 2010 | Reply

      • ampun tuwan..

        Comment by novakhamsah | May 21, 2010

  2. Senangnya yang jalan-jalan…^^

    Comment by Putri Chairina | May 18, 2010 | Reply

    • mangkanya minta pindah ke Batam aja, bisa ke Singapore murah, hehehe..

      Comment by Angga | May 18, 2010 | Reply

  3. kapan2 ajak teteh ya angga..

    Comment by ate | May 20, 2010 | Reply

    • insyaAllah teh, ajakin Bu Disa juga ntar, hehehe…

      Comment by Angga | May 20, 2010 | Reply

  4. Hehe, Singapur emang bagus ya, tertata rapi, jauh lebih rapi ketimbang Jakarta. Bakal betah di sana kalo biaya hidup ga tinggi. :(

    Comment by Asop | May 22, 2010 | Reply

  5. ati-ati digaruk didarani antek-e gayus.. :P

    Comment by hamka | May 24, 2010 | Reply

  6. nek arep nang singapore maneh, ben penak jalan2ne, coba baca http://wisatasingapura.kiosgeek.com/

    Comment by Dhika | May 27, 2010 | Reply

  7. ass. enak juga ya bisa jalan ke negara tetangga dengan biaya yang sangat minim. kapan2 bisa ikut gabung ngak mas……… saya sering ke malaka untuk berobat. jika ada perkumpulan seperti yang diceritakan mas diatas, setidaknya perjalanan saya ke malaka tidak hanya untuk berobat saja.

    Comment by dedi masrani | August 26, 2010 | Reply

  8. kunjungi http://www.bisnisindonesian.com

    Comment by Bisnis Indonesia | May 15, 2014 | Reply

  9. wisata yg menyenangkan

    Comment by investasi | May 16, 2014 | Reply

  10. awas jangan pernah tertipu oleh situs penipuan http://www.bisnis-properti.com

    Comment by bisnis property | July 24, 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: