A Story About…

Just an Ordinary Person

Lamaranmu Kutolak

Dapet dari milis sebelah, cukup menarik.. πŸ™‚

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang
perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’
sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Fakultas Ekonomi UNPAD Pak. UNPAD itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?”
Continue reading

August 14, 2009 Posted by | Corat-Coret, iseng-iseng | , | 6 Comments

Last Day

Hari ini (Jum’at 15 Mei 2009) insyaAllah menjadi hari terakhir kuliah saya di ITB (semoga, AMIN..!!). Ada yang sangat spesial di hari ini. Kuliah terakhir ditutup dengan wawancara (baca : TES LISAN), oleh sang dosen legendaris di jurusan saya. Beliau adalah Pak Herman Judawisastra, dosen mata kuliah Antena dan Propagasi Gelombang (saya ambil mata kuliah ini untuk yang kedua kalinya :mrgreen: ). Beliau sudah mengajar sangat lama, seharusnya sudah pensiun sekitar 7 tahun yang lalu, namun dedikasi beliau untuk mengajar sampai sekarang patut diacungi jempol, sekarang beliau diangkat sebagai dosen luar biasa di STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB.

Sudah lama sekali tes lisan tidak diberikan oleh beliau, namun entah karena apa semester ini beliau memberi tes lisan pada tes terakhir. Awalnya saya ragu-ragu mau ikut tes lisan atau tidak, namun akhirnya saya memutuskan untuk ikut, kapan lagi bisa wawancara dengan sang dosen legendaris, hehehe. Tes lisan ini dilakukan bergilir, sekali tes untuk 3 orang mahasiswa. Waktu giliran saya masuk kelas (bersama Albaz dan Riza), mulailah ada rasa grogi. Di awal-awal tes lisan ada yang membuat kami down, berikut kutipannya:

Dosen : Materi apa yang paling anda kuasai
mahasiswa : Tentang propagasi Pak
Dosen : Sebutkan semua elemen propagasi
Mahasiswa : sssiiinngggg zzzzzzzz (senyap)
Dosen : materi yang paling anda kuasai saja anda tidak mengerti

Begitulah ketiga mahasiswa yang ada di dalam kelas saat itu ditanyain pertanyaan tentang materi yang paling dikuasai, lalu ditanya balik dan langsung senyap, jadilah kami langsung down, hehehe. Ketika semua mahasiswa yang datang saat itu (ada mahasiswa yang ga datang dan udah pasrah ato takut untuk tes lisan, hehehe, peace ah..!!) selesai melakukan tes lisan, kami sempat foto bersama sang dosen legendaris. ini skrinsutnya (sang dosen legendaris berada di tengah)

Foto bersama Dosen legendaris

Foto bersama Dosen legendaris

Continue reading

May 15, 2009 Posted by | Corat-Coret, Kampus | 23 Comments

Titip Absen

Beberapa waktu yang lalu saya melihat ada tempelan di papan pengumuman Lab Telmat, pengumuman ini cukup menarik perhatian saya. Berikut skrinsutnya (identitas dari yang bersangkutan sengaja disamarkan).

image0041

di pengumuman yang dibuat oleh kordas (kordinator asisten) ditulis WAJIB hadir responsi bagi yang mengikuti praktikum ini…!!

Hmmm, bahkan di responsi praktikum yang sangat penting ini ada mahasiswa yang titip absen? Mengapa tidak izin kalau emang benar-benar tidak bisa mengikuti responsi tersebut? Saya yakin kalau emang benar-benar tidak bisa mengikuti responsi dengan alasan yang masuk akal pasti kordasnya memberikan izin (tapi kalau ketahuan alasannya itu ngasal dan ngebohong, bisa lebih gawat lagi akibatnya). Untung bukan saya yang jadi kordas untuk praktikum ini, kalau saya yang jadi kordas mungkin tidak cukup dengan menulis pernyataan seperti di atas… :mrgreen:

Maaf untuk yang merasa melakukan perbuatan itu, saya cuma ingin mengatakan tolong hargai para asisten yang susah payah menyiapkan praktikum, terutama kordinator asisten. Menjadi kordinator asisten itu tidak mudah, banyak yang harus disiapkan dengan matang, berkorban banyak sekali, tapi dengan adanya praktikan yang tidak serius, sangat wajar kalau mereka merasa kurang dihargai. Mungkin kalian mengira saya ini sok2an, sombong, galak, dan sebagainya (waktu jadi kordas dulu keknya terpilih jadi asisten tergalak :D), terserah kalian mau bilang apa, nanti jika kalian merasakan jadi asisten atau kordinator asisten (terutama praktikum yang harus memulainya dari NOL seperti praktikum di atas), kalian akan merasakan bagaimana susahnya. (ceritanya curhat nih, hehehe…)

May 4, 2009 Posted by | agak serius, Corat-Coret, Curhat, Kampus | 24 Comments

Berapa Tarif Parkir Sepeda Motor???

Saya bingung dengan tarif parkir motor yang ada di pinggir jalan, di warung warung, di superparket, dsb. Jika dikasih 500 rupiah diterima, dikasih 1000 rupiah tidak dikasih kembalian (padahal di tempat yang sama), jadi yang benar berapa tarif parkir ini…?? Ada yang tau..?? Kalau dikasih 5000 rupiah dikembalikan berapa ya? atau tidak dikasih kembalian juga..?? -_-

May 4, 2009 Posted by | Corat-Coret, Curhat | , , | 4 Comments

Di Mana Intelektualitas Mahasiswa..??

Pagi ini ada yang cukup menarik perhatian saya ketika akan kuliah. Yaitu tulisan yang sangat besar, namun tulisan ini berada pada DINDING dari salah satu gedung kuliah, kebetulan pagi ini saya kuliah di gedung tersebut. Berikut skrinsutnya:

220420091638

1

Jadi? Di mana Intelektualitas mahasiswa jika mereka melakukan hal seperti ini? Di mana intelektualitas mahasiswa jika masih saja melakukan kekerasan?

April 22, 2009 Posted by | agak serius, Corat-Coret, Curhat, Kampus | , , , , | 14 Comments

Broadband in My Boarding House

Mau nyaingin postingannya si Dana yang ini. Berikut skrinsutnya (ini di kosan lho, bukan di kampus)

screenshot-56-of-1-file-downloadsJadi, yang mana yang lebih layak disebut broadband? Punya saya atau Dana? Atau tidak keduanya? :mrgreen:

April 5, 2009 Posted by | Corat-Coret, Internet, iseng-iseng | , , , , | 6 Comments

Kampanye partai politik, cerdaskah…??

Beberapa hari lagi kita akan melakukan PEMILU, tepatnya tanggal 9 April nanti. Kampanye sudah dimulai, bahkan poster, spanduk, dan atribut partai serta calon anggota legislatif sudah banyak terlihat jauh-jauh hari sebelum masa kampanye. Yang saya lihat dari atribut partai dan caleg itu, banyak sekali yang ditempel sembarangan, di tembok rumah, di jalan, di tiang listrik, dan sebagainya. Menurut saya ini bukanlah cara yang cerdas untuk berkampanye, masa berkampanye kok merusak (merusak pemandangan), bikin kotor, dsb. Kalau saya punya rumah dan temboknya ditempelin atribut macem dari partai itu, mungkin saya maki2 yang nempelin, hehe. Dan dari berita yang saya dengar di radio beberapa waktu yang lalu (entah benar atau salah), pemasangan atribut parpol di Bandung 80% itu tanpa izin…!! Nah lho…!!! Ada juga atribut2 parpol (spanduk, poster, dsb) yang kocak, saya sempat baca di salah satu milis, tapi gambarnya tidak saya simpan. ini salah satu skrinsut dari atribut caleg yang dipasang seenaknya yang saya foto di sekitar kampus saya (foto caleg, nama caleg, dan nama partai disamarkan, karena saya tidak bermaksud merendahkan partai ataupun calegnya πŸ˜€ )

img_01811

Continue reading

April 4, 2009 Posted by | agak serius, Corat-Coret | , , , , | 10 Comments

Basement Labtek VIII di-blacklist

Basement Labtek VIII ITB kena blacklist? Ama siapa ato apa? Jawabannya adalah kena blacklist oleh lift, nih skrinsutnya, tombol untuk menuju ke basement di-isolasi hitam (bahasa Jawanya kalo gak salah “Lakban”, bener gak ya?).

Basement kena blacklist lift

Basement kena blacklist lift

Kenapa basement terkena blacklist? Karena lift ini sering kali bermasalah jika menuju ke basement, kadang pintunya gak mau terbuka, kadang mau terbuka tapi agak maksa (suaranya aneh), dan kadang suka “park” kalau abis dari basement. Yang salah bukan basement ataupun orang-orang di basement, tapi lift itu yang emang agak kurang beres… πŸ˜€ . Semoga aja cepat segera ditangani oleh pihak yang bertanggung jawab atas sarana prasarana Labtek VIII ini.

April 4, 2009 Posted by | Corat-Coret, iseng-iseng, Kampus, Santai | , , , | 9 Comments

Demi Waktu

Mengapa saya menulis judul seperti itu? Karena beberapa hari ini ada masalah dengan waktu yang bikin saya agak gregetan juga. Apakah susah untuk “tepat waktu”? Apakah orang Indonesia terkenal dengan “jam karet”? Apakah hal ini sudah membudaya?

Kemarin, saya ada jadwal kuliah jam 7 pagi, saya datang ke kampus sebelum jam 7, jam 7 kurang 3 menit saya sudah berada di kelas, dan apa yang saya lihat…?? Di dalam kelas hanya ada 2 orang mahasiswa, padahal peserta kelas itu jumlahnya lebih dari 100 orang, di manakah yang lain..?? Menunggu, dan menunggu… akhirnya saya foto keadaan kelas beberapa saat kemudian, gambar di bawah ini adalah keadaan saat itu, dan di sampingnya gambar jam tangan saya (menunjukkan jam berapa saat itu). Maaf kalau gambarnya kurang jelas, maklum hanya kamera HP biasa.

Kondisi kelas jam 7.10

Kondisi kelas jam 7.08 WIB

Lihat kan? Jam 7 lebih 8 menit dari sekitar 100 mahasiswa, yang datang hanya 2 orang, plus saya jadi 3 orang. Dan ketika Bapak dosen datang, kembali saya foto keadaan kelas dan jam tangan saya (kali ini difoto tampak belakang, karena saya sudah berada di tempat duduk).

Kondisi kelas ketika Dosen datang

Kondisi kelas ketika Dosen datang

Waktu itu saya duduk di barisan belakang, jadi hampir semua mahasiswa yang ada saat itu masuk di gambar ini. Lihat kan? kira-kira hanya sekitar 30 mahasiswa yang datang, dan itu juga jam 7.23 WIB. Ada juga mahasiswa yang baru datang jam 8 lebih. Sebegitu parahnya kah orang Indonesia dalam kurangnya menghargai waktu..?? Continue reading

March 12, 2009 Posted by | Corat-Coret, Curhat, Kampus | , , , | 14 Comments

25 Miliar untuk Sebuah Nama Gedung di ITB

Berita tentang penggantian nama gedung 4 Labtek di ITB mungkin sudah banyak di media, salah satunya dari situs resmi ITB, bisa dibaca di sini. Namun saya baru tau kemaren, dikasih tau seorang teman waktu keliling di acara Dies Emas ITB (makasih banyak untuk yang sudah nemenin saya keliling di tengah teriknya matahari, hehehe). Dan berikut adalah gambar dari keempat gedung tersebut:

Gedung Benny Subianto, Gedung T.P.Rahmat, Gedung Yusuf Panigoro, dan Gedung Achmad Bakrie

Gedung Benny Subianto, Gedung T.P.Rahmat, Gedung Yusuf Panigoro, dan Gedung Achmad Bakrie

Untuk mencantumkan nama di keempat gedung tersebut, diperlukan 25 Milyar rupiah..!! Saya tidak habis pikir, mengapa bisa orang yang membayar 25 M tersebut bisa mematrikan namanya sebagai nama gedung di ITB (bukan yang membayar sih, tapi orang tua dari yang membayar yang namanya dipatri di situ). Apakah ini pertanda semakin komersilnya ITB? Mengapa tidak memberi nama gedung dengan nama-nama orang yang berjasa bagi ITB atau nama Pahlawan Nasional? “Gedung Soekarno” , “Gedung Mohammad Hatta”, atau yang seperti itu. Beliau ini jelas seorang Pahlawan Nasional yang besar jasanya. Bukannya saya tidak menghargai para donatur yang memberikan uang sebesar 25 M tersebut, memang benar dengan dana yang sebesar itu ITB dapat memperoleh tambahan biaya untuk riset, pendidikan, dan sebagainya yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas ITB. Tapi “apakah layak dengan 25 M tersebut nama seseorang dipatri di gedung ITB?”. Kalau dimisalkan 1 gedung itu adalah 1/20 bagian ITB, jika ada yang menyumbang 25 x 20 = 500 Milyar, apakah nanti nama ITB ganti jadi nama yang nyumbang? Atau jika ada yang nyumbang lebih kecil, misal 10 Miliar, nama sebuah Laboratorium di ITB bisa ganti nama jadi nama yang nyumbang? (kalau saya nyumbang ke Lab.Telematika ntar namanya ganti jadi nama Lab.Dian Fatra Anggita, hahaha, maaf Pak, Bu, ini admin Lab ngaco ngomongnya… :mrgreen: )

Dan yang ingin saya soroti lagi adalah dari keluarga Bakrie, mengapa 25 M tersebut tidak digunakan untuk menolong korban lumpur Lapindo, kasihan tuh nasib mereka semakin gak jelas, miris saya melihat nasib korban Lapindo (saya hanya bisa ngomong dan berdoa sih, belum bisa memberikan bantuan apa-apa kepada mereka juga). Di mana hati nurani para petinngi Lapindo ini…??

Hhhhh, karena belum bisa berbuat kongkrit untuk masalah ini, curhat aja deh di Blog ini… πŸ˜€

March 5, 2009 Posted by | Kampus | , , , , , , , , | 11 Comments